Oh ya, kemarin aku menghadiri Akad Nikah temanku: Singkat cerita, setelah acara salam-salaman kelar, temenku (she) yang abis nikah ini nyamperin aku, kita ngobrol, trus dari obrolan itu ada satu pernyataan dari dia "sepi ya", "iya yah" jawabku. "Payah nih temen-temen pada nga bisa datang" aku diam aja deh... "Padahal janjinya pada mau datang" Sambungnya... keliatan dari mukanya dia sedih dan agak kesel gitu deh. Trus aku cuma bilang "Seharusnya hari ini jadi hari yang paling menyenangkan buat kamu, so... jangan di rusak dengan perasaan-perasaan kesal seperti itu". Dia diam aja.
Kita sempat saling diam beberapa waktu, mungkin dalam hatinya membenarkan kata-kataku (ge-er) dan aku dalam keadaan bingung juga mau ngomong apa, bukan bingung tentang mau ngomong apa sih, tapi lebih tepatnya bingung antara mau ngomongin yang ada di perasaan gue atau tidak.
Tapi akhirnya aku ngomong juga, Aku: "Sebenarnya kamu sudah menyadari ini" Dia: "Menyadari apa?" Aku: "Bakal sepi" Dia: "Masa sih?" Aku: "Iya, karena kamu memang maunya sepi" Dia: "Aneh deh kamu" Aku: "Lho, bener dong, selama 4 tahun kamu pacaran sama dia maunya kan nyepi terus, kemana-mana berdua terus" *dengan nada menggoda dia. Dia: *diam lagi "Selama 7 tahun kenal kamu, ini baru kedua kali kita ngobrol kan? yang pertama kali itu ya 7 tahun yang lalu, setelah itu, kita nga pernah email-email, sms-an, chatting. Dengan ketemuan yang jarang sekali terjadi kita juga cuma just hi aja". Dia: *Akhirnya keluar suara "Iya ya"
Kayaknya cukup deh, takut buat dia makin sedih lagi sih... *aku jadi teringat tentang kata-kata: "Didalam kebahagiaan itu ada kesedihan dan keharuan juga"
"Ya udah, ntar abis ini kita ngobrol-ngobrol lagi kalau ketemu, atau ya kamu ntar kontak-kontakan lagi sama teman yang lain, malam ini kamu nikmati dulu deh nyepi-nya, hehe" Senyumnya langsung mekar lagi... walahhhh..kayaknya udah pengen banget deh...
Akhirnya nga lama setelah itu, aku pamit pulang.... byeeee.
| |
|