Artikel “INSPIRING WOMAN” Edisi Agustus di Majalah PRODO
AIKO SENOSOENOTO “Saya ingin Jakarta jadi pusat budaya di Asia!” Ia tak saja pionir mengemas seni pertunjukan menjadi tontonan modern yang begitu apik, tetapi berhasil mengelola komunitas seni menjadi entitas bisnis yang bisa menghidupi. Aiko Senosoenoto adalah gairah seni, yang dengan kepiawaiannya memadukan posisinya sebagai pemilik, pimpinan sebuah perusahaan seni pertunjukan sekaligus seorang pandita.
Ia orang yang konsisten menyajikan pertunjukan yang memukau setiap tahunnya. Urban, modern, dan terkadang sangat aktual, menjadi sisi lain ciri produksi pertunjukannya. Sebutlah Galery of Kisses, China Moon, atau Miss Kadaluwarsa untuk menyebut beberapa dari karyanya. Yang terakhir, dipagelarkan beberapa pekan lalu di Gedung Kesenian Jakarta, cukup menyedot perhatian penonton. Di temui di kantor PT Eksotika Karmawibhangga Indonesia atau biasa dikenal sebagai EKI Production suatu malam dua pekan lalu, Aiko yang sedang sibuk rapat dengan anak-anak muda para pekerja seni binaannya, mengungkapkan tentang hidup dan kegairahannya tentang dunia seni yang digelutinya. AIKO DALAM KEGAIRAHAN SENI KEHIDUPAN Kegairahannya pada seni pertunjukan memang tak main-main. Pernah berkuliah di FISIP UI jurusan Komunikasi Massa, ia dengan sukarela drop out karena kehilangan minat dan sibuk kerja di belakang panggung. “Saya bukan orang yang senang sekolah karena saya tak suka rutinitas. Sekolah saya sebetulnya lancar, tapi sampai menjelang skripsi saya menyerah, dan ‘DO’,” katanya. Ibu dari empat anak ini mengaku, Ken Miki Andhita, 15, putri sulungnya, adalah sumber inspirasi hidupnya. Putrinya yang menderita gangguan saraf menuju otak karena lahir prematur itu, dan belum bisa berbicara hingga hari ini, menjadi kekuatan dirinya dan suaminya, Rusdy Rukmarata, koreografer dan penari lulusan London Contemporary Dance School.
Bagaimana Anda menghidupkan komunitas seni menjadi begitu penuh daya? Buat kami yang tergabung dalam komunitas seni EKI ini, segala unsur di dalamnya punya peran sama dan penting. Jika komunitas seni cenderung jadi mementingkan seniman, atau bahkan hanya terdiri dari para seniman saja, tidak demikian di EKI. Seniman yang tergabung dalam tim artistik dan yang bukan seniman yang berkumpul di manajemen, punya suara yang sama. Produk EKI tidak semata-mata hasil karya si seniman, tapi juga orang-orang publikasi, marketing dan lain-lain. Mereka yang bekerja di belakang panggung seperti para kru, operator, wardrobe sampai konsumsi juga dihargai. Tidak hanya mereka yang ada di atas panggung saja. Ini kami jalankan karena kami merasa semua unsur sekecil apapun punya pengaruh dalam kesuksesan pertunjukan. Inilah yang membuat EKI bisa tetap eksis sampai sekarang. Idealisme seni Anda berkaitan dengan spiritualitas komunitas di sini? Mungkin bisa dibilang demikian, meski tidak berhubungan langsung dalam syiar agama agama tertentu. Sebagai Buddhis, saya banyak menggunakan ajaran-ajaran Buddha dalam mengelola komunitas ini, namun tentunya yang lebih bersifat universal. Misalnya konsep karma, apa yang kita alami sekarang adalah akibat dari perbuatan kita sebelumnya. Meski ini adalah ajaran Buddha, saya rasa konsep ini sudah diterima banyak orang sekarang. Bagaimana Anda menggalang dana? Ada bisnis di kelola menjadi penggerak pagelaran yang Anda buat? Saya tidak berbisnis. Selama ini EKI bergerak atas dasar donasi dan juga sponsor. Dalam keseharian, EKI dibagi atas tiga divisi besar: EKI Production, EKI Dance Company dan EKI Dance School. Untuk dua yang pertama berjalan seperti sebagaimana perusahaan pada umumnya. Sedangkan EKI Dance School sekarang masih terbatas bagi mereka yang lulus audisi dan akan masuk ke dalam EKI Dance Company nantinya. Semua murid dalam EKI Dance School mendapat beasiswa yang dananya kami dapat dari donasi para pemerhati seni. Hingga kini ada lebih dari 50 donatur tetap untuk EKI Dance School. Apa sesungguhnya pesan-pesan yang ingin disampaikan lewat pertunjukan Anda? Saya percaya, semua orang punya potensi besar. Namun seringkali orang terbelenggu berbagai situasi yang menghambat munculnya potensi ini. Belenggu itu bisa saja berupa keadaan sosial, kondisi fisik dan sebagainya. Dengan EKI saya berharap bisa memunculkan potensi-potensi terutama dari anak-anak muda Indonesia. Pesan yang sesungguhnya ingin saya sampaikan adalah, kita jangan terus merasa inferior karena tidak merasa sebagai bangsa maju, karena perasaan seperti itulah yang membuat Indonesia menjadi negara bobrok dan tidak berkembang. Apa obsesi Anda dan kehidupan berkesenian di Indonesia pada umumnya? Saya ingin EKI punya gedung pertunjukan sendiri, sehingga kita bisa punya pertunjukan reguler seperti yang di Broadway New York atau West End di London sekarang. Dengan demikian orang-orang, terutama di Jakarta, punya alternatif hiburan lain. Jakarta, meski sudah menjadi kota maju, sebenarnya miskin hiburan. Kebanyakan orang tua tidak punya pilihan saat mengajak anak-anaknya selain pergi ke mal. Itu tidak mendidik. Anak-anak cenderung menjadi manusia konsumtif. Kalau nantinya setiap akhir pekan orang tua bisa mengajak anaknya nonton pertunjukan, minimal rasa anak akan jadi lebih terasah. Orang yang akrab dengan seni akan lebih peka lingkungan dan keindahan. Saya juga ingin di kompleks gedung pertunjukan itu bisa ada 'open classes' untuk berbagai bidang seni. Jadi di waktu luangnya, orang bisa datang ke sana untuk mengambil kelas melukis, menari, menyanyi dan sebagainya. Saya ingin Jakarta berkembang tidak hanya sebagai pusat bisnis, tapi juga sebagai kota budaya di Asia! Bagaimana potensi perempuan di kancah seni kita? Perempuan punya potensi sangat besar di kancah seni Indonesia. Lihat saja sekarang, makin banyak perempuan yang eksis di dunia seni, tidak hanya sebagai artis tapi juga pelukis, pematung, sutradara juga produser, dan lain-lain. Sebenarnya bakat seni orang Indonesia itu sangat besar. Banyak koreografer dari luar yang kaget ketika mengetahui penari EKI Dance Company kebanyakan baru mulai belajar teknik menari pada usia 18 tahun ke atas. Menurut mereka, orang-orang bule tidak mungkin bisa mencapai seperti apa yang dicapai penari-penari EKI bila mereka mulai di usia seperti itu. Bagaimana agar kesenian kita memiliki pamor di mata dunia? Saya merasa kita masih kurang serius menggarap kesenian kita. Seniman masih belum dianggap sebagai profesi yang sejajar dengan profesi-profesi lain seperti dokter atau insinyur. Oleh karena itu kesenian Indonesia tidak digarap secara profesional. Masyarakat kita belum memiliki apresiasi cukup. Mungkin untuk seni seperti lukisan atau patung sudah cukup banyak kolektor di Indonesia. Tapi saya agak ragu, apakah mereka menjadi kolektor benar karena apresiasinya atau semata-mata karena investasi? Di lain pihak, pendidikan kesenian terhadap murid-murid sekolah juga sangat kurang. Pembangunan yang hanya memperhatikan faktor ekonomi saja akan membuat bangsa ini jadi bangsa dekaden.
Dengan situasi seperti ini, apa yang bisa diharap dari pamor kesenian kita di mata dunia? Mengaku tidak tahu berasal dari mana bakat seninya, dan merasa pengaruh terbesarnya mungkin justru dari suaminya, Aiko yang dibesarkan dalam keluarga pemuka agama Buddha memang sudah merasa tertarik dengan kesenian. “Mungkin karena orang tua saya memiliki pandangan yang jauh lebih liberal untuk kebanyakan orang Indonesia, dan orang-orang yang punya pandangan seperti itu di luar orang tua saya ya kebanyakan para seniman,” katanya. Bercita-cita jadi pramugari dan dokter hewan semasa gadis kecil, sisi spiritual Aiko menjadi begitu berkembang setelah dewasa. Ayahnya yang seorang pandita memang menawarinya untuk mengikuti jejaknya. Lama ia merenungkan tawaran itu, apalagi umat ayahnya pun mendesaknya. Tawaran itu diterimanya sekian tahun kemudian dengan satu syarat. “Saya ingin menjadi pandita yang tak terbelenggu cara-cara konservatif.” Telah sebelas tahun ia menjabat menjadi pandita Buddha, dan menjadi pemimpin Yayasan Pandhita Sabha Buddha Dharma Indonesia. Tak heran, ia mampu menjalani hidupnya dengan apa adanya seorang perempuan kosmopolitan. “Saya suka membaca, termasuk novel-novel chick lit, karena ada unsur humornya, menertawai tragedi yang terjadi dalam hidup, dan bukan menangisinya.” Seperti halnya semua perempuan, ia juga suka shopping dan makan. “Hobi yang agak bermutu ya... saya senang nonton pertunjukan seni. Terakhir saya nonton Phantom of the Opera di Esplanade,” ungkap perempuan yang suka jalan-jalan ke daerah terpencil ini. “Di desa-desa di Jawa, yang kadang kalau kita cari di peta tidak ada. Di sana saya bisa kenal dan berteman orang-orang yang beda dengan lingkungan yang saya hadapi sehari-hari. It’s very insipiring...” ungkapnya. (Teks oleh: Arif C. Wilopo Foto oleh: Dio Hilaul ) POINTER: “Perempuan berpotensi besar dalam kancah seni Indonesia!” “Dengan EKI saya berharap bisa memunculkan potensi-potensi terutama dari anak-anak muda Indonesia. Pesan sesungguhnya yang ingin saya sampaikan adalah, kita jangan terus merasa inferior karena tidak merasa sebagai bangsa maju.”
 | dimushka wrote on Aug 1, '07, edited on Aug 1, '07 hurray Aiko+RR! jakarta bisa jadi pusat budaya di asia... karena akan banyak lahir penjiwa2 seni yang enggak laku masuk sinetron ataupun film, tapi nyasar ke panggung seni dan berkembang. demikian juga seniman yang akhirnya rela mendaur ulang teknik2nya untuk menciptakan nafas seni yang 'real indonesia'. HOLD ON! |
| |